Tags

, , ,

Benrapa waktu yang lalu, di salah satu list timeline microblogging (twitter) saya ramai dibicarakan masalah isu penutupan salah satu tempat pelestari budaya di jakarta , yaitu Pusat Dokumentasi HB Jassin.

Sebagai latar belakang, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin ini dimulai sebagai dokumentasi pribadi H.B. Jassin, sang tokoh sastra yang dijuluki sebagai Paus Sastra Indonesia. Jassin menggeluti pendokumentasian sastra ini dengan dana dan tenaga yang serba terbatas sejak ia mengembangkan minatnya akan dunia sastra dan pustaka pada tahun 1930-an, ketika usianya belum lagi 30 tahun.

Dokumentasinya ini menggugah perhatian Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang akhirnya turun tangan untuk ikut memelihara kelestariannya agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang. Karena itulah Ali Sadikin kemudian memberikan tempat kepada H.B. Jassin di salah satu gedung yang terdapat di Taman Ismail Marzuki sebagai lokasi Pusat Dokumentasi ini.

Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin didirikan pada 28 Juni 1976. Sejak tahun anggaran 1977/1978, Pemerintah Daerah DKI Jakarta memberikan subsidi kepada yayasan ini yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dokumentasi Sastra. Sementara itu, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan juga ikut mendukung pembiayaan lembaga ini tahun anggaran l983/l984. Ada pula sumbangan-sumbangan lain dari para donatur tidak tetap.

Pada Mei 2006, pusat dokumentasi ini mempunyai koleksi sebanyak 48.876 dalam bentuk buku-buku fiksi, non-fiksi, naskah drama, biografi dan foto-foto pengarang, kliping, makalah, skripsi, disertasi, rekaman suara, dan rekaman video. Di sini disimpan pula sejumlah surat pribadi dari berbagai kalangan seniman dan sastrawan, seperti Nh. Dini, Ayip Rosidi dan Iwan Simatupang. (taken from http://id.wikipedia.org/wiki/Pusat_Dokumentasi_Sastra_H.B_Jassin)

Namun kemudian kondisi nya sekarang memprihatinkan, karena kekurangan dana subsidi pemerintah, tempat ini terancam ditutup.

Ini bukan kali pertama nya saya membaca berita mengenai tergusurnya tempat bersejarah demi konsumerisme. Kolam pemandian Cihampelas di Bandung sampai kota tua di Jakarta pun tak luput jadi korbannya.

Dan penggantinya? Saya hampir tidak menemukan bangunan dengan corak unik yang mencirikan nusantara yang dibangun. Alih2 adalah bangunan modern yang lebih mengutamakan fungsi dan simple dengan sedikit ornamen budaya. Lalu apa yang bisa kita tunjukkan kepada generasi penerus kita tentang warisan arsitektur budaya? Gedung2 pencakar langit atau ornamen modern yang lebih simple?