Tags

, , , , , ,

Beberapa hari lagi ,umat Hindu akan merayakan pergantian tahun Caka. Dan seperti tahun2 sebelumnya, persiapan dalam rangka menyambut hal tersebut sudah jauh2 hari dimulai. Tengoklah kegiatan para pemuda banjar yang mempersiapkan ogoh2 , kesibukan ibu2 yang mulai mempersiapkan banten pecaruan sampai rangkaian upacara melasti.
Hal ini “lumrah” terjadi setiap tahun nya di Bali.

Namun seiring bergantinya jaman, ada “aktifitas” tambahan mulai mem-budaya tiap tahun, yaitu antrian panjang di supermarket untuk membeli “perbekalan” selama nyepi.

Saya sendiri berpikir bodoh “emang nyepi berapa lama sih? ampe borong seisi supermarket segala?”

Jika dilihat secara umum, Nyepi artinya membuat suasana sepi, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati gni), tanpa melakukan perjalanan keluar rumah (amati lelungaan) dan tanpa hiburan (amati lelanguan) , yang kemudian dikenal dengan istilah Catur Berata Penyepian. Tujuan nya ialah mengendalikan sifat-sifat “butha” yang ada dalam diri manusia, melaksanakan yoga tapa untuk mencapai kesucian batin. Istilah modern nya : intropeksi diri atas segala perbuatan yang telah dilakukan, melihat lagi, berpikir lagi dan merenungkan atas segala sesuatu yang pernah, sedang dan akan dilakukan.

Kembali lagi kepada masalah borong-memborong, entah karena gaya hidup yang sudah berubah atau karena pergeseran makna, banyak masyarakat sekarang menganggap Nyepi hanya sebagai “tidak boleh menghidupkan lampu dan keluar rumah”, tanpa meresapi apa dibalik itu semua. Bahkan ketika saya membaca timeline kemarin dan juga bb group messenger pagi ini, saya menemukan (lagi!) generasi muda yg mempermasalahkan nyepi di status FB nya(padahal, konon anak ini siswa SMU paling ternama di Denpasar) Saya pribadi tidak menyalahkan “gejolak emosi muda” anak itu, tp yg disayangkan, apa ini yg diajarkan dari sistem pendidikan sekarang? Exact mengalahkan moral? Budi pekerti cuma sekdar nilai di raport?

Saya sendiri, jujur “kalah” pada saat nyepi kemarin. Kalah maksudnya dsini, saya masih terpengaruh sifat “butha” yg tidur seharian, ngemil dan beberapa kali tergoda untuk buka social network account.

Ada satu kejadian menarik pada saat hari pengerupukan kemarin, ketika saya melintas di kawasan renon yg sepi dari nusadua (sore hari kira2 jam 5-6) saya menemukan seorang ibu-ibu penyapu jalan , bersama anaknya yang masih SD mendorong gerobak sampah dan menyapu jalan. Ketika saya hampiri dan bertanya “kenapa masih bekerja jam segini?” , beliau menjawab sengaja ngambil “lemburan” supaya bisa membeli bahan makanan untuk anaknya besok dan hari ngembak. Jujur, saya hampir nangis (anti-social, ganjen, dan annoying person seperti saya bs hampir nangis???) karena mendengar ceritanya. Saya teringat dulu suatu waktu ibu saya juga pernah mengalami hal serupa, masih berjualan baju dari rumah ke rumah pada malam pengerupukan, demi bekel anak2nya. Singkat cerita sy lgsg menyerahkan sisa uang yang ada di dompet (yang sekiranya akan dipakai untuk modal mecekian di banjar pas nyepi – tidak seberapa sih) . Ibu itu tentu menolak, tp saya tetap maksa dan memasukan uang di kantong si anak dan cepat2 berlalu sebelum ibu itu menolak lg.

Saya bisa saja berada di mana saja pada saat nyepi, menghabiskan banyak untuk membunuh kebosanan pada saat itu, tapi saya lebih memilih tinggal dirumah dan menikmatinya. Karena inilah Nyepi bagi saya, ketika anda bs berpikir untuk masa lalu, sekarang dan masa depan.