Tags

, , ,

Pada suatu ketika, saya dan istri pernah memperdebatkan tentang bagaimana seharusnya kami merenovasi rumah yang kami tempati sekarang. Sebagai gambaran, istri saya berasal dari lingkungan yang masih sangat kental dengan adatnya , sementara saya sendiri berasal dari lingkungan yang tradisinya sudah bercampur dengan kehidupan modern.

Karena perdebatan ini akhirnya saya coba mencari bagaimana sebenarnya konsep dari rumah menurut masyarakat Bali secara arsitektural (walaupun jujur “arsitektur” bukan bidang saya – walaupun beberapa teman dan saudara saya seorang arsitek)

Yang menjadi “dasar landasan” untuk setiap membangun rumah di Bali pada waktu lampau (dan sekarang) adalah Asta Kosala Kosali. Ini merupakan Kitab Suci, Feng Shui, Manual dalam konsep membangun rumah.

Disebutkan  Asta Kosala Kosali adalah sebuah tata cara, tata letak, dan tata bangunan untuk bangunan tempat tinggal serta bangunan tempat suci yang ada di Bali yang sesuai dengan landasan Filosofis, Etis, dan Ritual dengan memperhatikan konsepsi perwujudan, pemilihan lahan, hari baik (dewasa) membangun rumah, serta pelaksanaan yadnya.

Saya tidak akan menjelaskan konsep dan landasan detail mengenai Asta Kosala Kosali ini , tapi jika anda tertarik untuk mengetahuinya bisa di cek di link ini . Yang saya coba liat adalah tata letak yang biasanya diterapkan, berdasarkan atas gambar di bawah ini :

 

1. Sanggah / Merajan

Biasanya berada di pojok Utara-Barat, yang merupakan tempat suci untuk melakukan persembahyangan/pemujaan terhadap roh leluhur dan para dewa-dewa (Hyang Guru)

2. Tempat Peristirahatan Utama

Biasanya berupa bangunan besar berstruktur delapan , tempat anggota keluarga utama untuk ber istirahat (kamar tidur utama istilah keren nya :p) . Biasanya juga terdapat teras , tempat biasanya menerima tamu jika ada acara/upacara keluarga.

3. Paviliun Barat

bale barat merupakan “gedung serba guna” tempat melakukan segala kegiatan , mulai dari tempat berkumpul keluarga sampai ruang tidur tambahan.

4. Paviliun Suci

Bale suci merupakan tempat untuk melaksanakan kegiatan upacara yang berkaitan dengan “manusia” seperti kelahiran, potong gigi, perkawinan, sampai kematian.

5. Paviliun Tamu

Bale tambahan yang biasanya menjadi ruang tidur bagi anak-anak atau keluarga yang lain , bisa juga ruang tidur tamu, yang besarnya tergantung akan seberapa besar jumlah keluarga tersebut

6. Lumbung

Tempat menyimpan beras atau hasil ladang lain nya di masa lalu, biasanya di masa sekarang digunakan sebagai gudang tempat penyimpanan multi guna

7. Dapur

Tempat memasak (ya iyalah masa berenang? :P) di letakkan di selatan karena berkaitan dengan simbol dewa Brahma , Sang Hyang Api , yang bertempat di selatan

8. Pagar

9. Gerbang Utama

Konsep tersebut diatas kemudian di modifikasi lagi sesuai dengan keadaan modern saat ini, dimana tanah sudah jarang yang seluas dahulu dan beberapa bangunan mulai menyatu karena keterbatasan lahan.

 

(sumber : http://www.baliaround.com/balinese-house-architecture/)